Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa atau yang lebih dikenal dengan istilah LDKS merupakan agenda wajib bagi para calon pengurus organisasi di lingkungan sekolah. Bagi para siswa di SMP Asisi, kegiatan ini bukan hanya sekadar latihan fisik di lapangan, melainkan sebuah kawah candradimuka untuk membentuk mentalitas yang tangguh. Fokus utama dari kegiatan ini adalah bagaimana setiap individu mampu menumbuhkan kesadaran diri untuk menjadi seorang Pemimpin Disiplin yang dapat diandalkan dalam situasi apa pun.
Disiplin adalah fondasi utama dari kepemimpinan. Tanpa kedisiplinan, seorang pemimpin akan kesulitan mengelola waktu, tugas, maupun anggota timnya. Di SMP Asisi, kurikulum LDKS dirancang sedemikian rupa untuk menguji ketahanan mental dan konsistensi siswa. Untuk membantu para peserta melewati tantangan tersebut dengan sukses, berikut adalah lima bekal penting yang harus dipersiapkan dengan matang sebelum terjun ke dalam kegiatan tersebut agar tujuan pembentukan karakter tercapai secara maksimal.
Bekal pertama adalah kesiapan mental dan fisik. LDKS seringkali melibatkan jadwal yang sangat padat dan menuntut konsentrasi tinggi dari pagi hingga malam. Peserta dituntut untuk selalu tepat waktu dalam setiap sesi. Kedisiplinan waktu ini adalah ujian awal yang paling mendasar. Seorang calon pengurus di SMP Asisi harus membiasakan diri untuk menghargai setiap menit yang ada, karena dalam organisasi, keterlambatan satu orang dapat menghambat kinerja seluruh tim.
Bekal kedua adalah kemampuan manajemen emosi. Dalam simulasi organisasi yang diberikan selama LDKS, tekanan akan datang dari berbagai sisi. Seorang Pemimpin Disiplin harus tetap tenang saat menghadapi masalah atau perbedaan pendapat dengan rekan sejawatnya. Mengontrol emosi bukan berarti tidak boleh merasa lelah, melainkan mampu menempatkan kepentingan organisasi di atas perasaan pribadi. Hal ini sangat ditekankan oleh instruktur di SMP Asisi agar pengurus baru memiliki kedewasaan dalam bersikap.
Bekal ketiga adalah pengetahuan tentang etika dan tata krama. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang santun. Di lingkungan sekolah, cara berkomunikasi dengan guru, kakak kelas, maupun adik kelas harus dijaga dengan baik. Disiplin dalam bertutur kata mencerminkan wibawa seseorang. Peserta LDKS diajarkan bagaimana cara menyampaikan instruksi dengan tegas namun tetap menghargai martabat orang lain, sehingga tercipta lingkungan organisasi yang harmonis dan jauh dari intimidasi.
