Merdeka Belajar, Merdeka Beraksi: Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Proyek Nyata Pelestarian Lingkungan
Kurikulum Merdeka (KM) mendorong pembelajaran yang berpusat pada siswa dan relevan dengan konteks nyata. Konsep “Merdeka Belajar, Merdeka Beraksi” diwujudkan melalui Proyek Nyata yang fokus pada isu-isu mendesak. Pelestarian lingkungan adalah tema sempurna untuk mengimplementasikan prinsip-prinsip kurikulum ini secara mendalam.
Tahap Awal: Identifikasi Masalah Lingkungan Lokal
Implementasi KM dimulai dari siswa mengidentifikasi masalah di sekitar mereka. Misalnya, polusi sampah plastik di kantin atau kurangnya area hijau. Identifikasi masalah yang otentik ini menjadi landasan kuat untuk merencanakan Proyek Nyata. Proses ini melatih kemampuan observasi dan analisis kritis siswa.
Proyek Nyata sebagai Wujud Pembelajaran Berbasis Aksi
Alih-alih hanya teori, siswa dituntut melakukan Proyek Nyata yang berdampak langsung. Contohnya, merancang dan mengimplementasikan sistem bank sampah sekolah atau membuat pupuk kompos dari sisa makanan. Aksi nyata ini mengubah siswa dari penerima informasi menjadi pencipta solusi yang bertanggung jawab.
Melatih Keterampilan Abad 21 Melalui Kolaborasi Tim
Setiap Proyek Nyata memerlukan kolaborasi lintas mata pelajaran dan peran. Siswa belajar bekerja sama, berkomunikasi efektif, dan memecahkan masalah kompleks dalam tim. Keterampilan abad ke-21 ini diasah secara alami saat mereka bergotong royong merealisasikan solusi pelestarian lingkungan.
Pendekatan Interdisipliner dalam Proyek Nyata Pelestarian
Kurikulum Merdeka mendorong pendekatan interdisipliner. Proyek Nyata pelestarian lingkungan menggabungkan sains (ekologi), matematika (pengukuran limbah), seni (kampanye visual), dan bahasa (presentasi laporan). Pembelajaran menjadi holistik, tidak tersekat-sekat dalam mata pelajaran.
Pemanfaatan Lingkungan Sekolah Sebagai Laboratorium Terbuka
Sekolah menjadi laboratorium utama bagi Proyek Nyata ini. Kebun sekolah, area daur ulang, bahkan kantin, semua menjadi setting praktis. Siswa melakukan uji coba, evaluasi, dan perbaikan solusi mereka di lingkungan yang familiar, memperkuat relevansi ilmu pengetahuan yang mereka pelajari.
Evaluasi Berbasis Proses: Menghargai Upaya dan Pertumbuhan Siswa
Evaluasi dalam KM fokus pada proses, bukan hanya hasil akhir. Guru menilai bagaimana siswa merencanakan, mengatasi tantangan, dan berkolaborasi selama Proyek Nyata berlangsung. Penilaian ini lebih menekankan pada pertumbuhan karakter dan kompetensi, sejalan dengan Profil Pelajar Pancasila.
